To Be Power in Shadows Chapter 12



Hai, Namaku Pochi! Senang Bertemu Kalian Semua!

—————————–

Editor: EGOIST [Wagamama]

—————————–

“Dengan kata lain, Alexia dan Zenon-sensei adalah tunangan, dan aku adalah orang ketiga?”

Aku saat ini bersama Alexia di belakang gedung sekolah sepulang sekolah.

“Kami belum bertunangan. Dia hanya kandidat tunangan saja.”

Itulah perkataan Alexia dengan wajah tenang.

“Bukannya itu sama saja.”

“Tidak, itu tidak sama. Hal Itu bahkan belum dikonfirmasi, tetapi dia sudah berusaha dengan paksa mempercepatnya prosesnya. Aku cukup terganggu dengan itu.”

“Hah, bodo amat. Maaf, tapi aku nggak berniat untuk terjerumus masalah di antara kalian berdua.”

“Ya ampun, sungguh hal yang sangat buruk untuk dikatakan oleh seorang pacar kepadaku.”

“Pacar? Kamu hanya menginginkan pelarian yang nyaman, bukan?”

“Itu benar. Tapi hal yang sama berlaku untukmu, iyakan?”

Senyum tidak menyenangkan muncul di wajah Alexia.

“Sama? Apa yang kamu bicarakan?”

“Oh, kamu berencana untuk pura-pura tidak tahu, ya? Oh Sid Kagenou-kun yang kalah dalam ‘penalty game’?”

Senyumnya semakin lebar.

Oukey, tunggu sebentar. Cobalah tenang.

“Betapa kejamnya, bermain dengan emosi gadis lugu sepertiku.”

Demikian kata Alexia sambil menangis dengan air mata buaya tanpa sedikit pun kepolosan yang berasal darinya.

Nggak masalah, tenanglah diriku.

“Aku tak tahu apa yang kamu bicarakan. Bukti, mana buktinya?”

Ya, bukti.

Terlepas dari seberapa banyak kecurigaan yang dia miliki, selama keduanya tidak mengkhianatiku…

“Jaga-kun? Kalau tidak salah namanya. Begitu aku berbicara dengannya, wajahnya memerah dan memberitahukan-ku semuanya walau pun aku tidak bertanya padanya. Kau punya teman yang baik.”

Dalam hati, aku ingin sekali menghajar dan menjadikannya kentang tumbuk, itu kulakukan untuk menjaga kesehatan mentalku.

“Apa kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat kejang-kejang seperti orang gila.”

“Tidak masalah. Karakterku miring jadi mulutku miring juga.”

“Ahhh, aku mengerti.”

“Setidaknya, masih lebih baik darimu.”

“Nn, apakah kamu baru saja mengatakan sesuatu?”

“Uh, nggak. Jadi apa sebenarnya yang kamu inginkan?”

Aku mengaku kalah. Alasan kekalahanku adalah salah memilih teman.

“Biarku lihat…”

Alexia melipat tangannya dan bersandar di gedung sekolah.

“Untuk saat ini, terus berpura-pura menjadi kekasihku. Durasi waktunya sampai pria itu menyerah.”

“Status-ku hanyalah keluarga Baron belaka. Sejujurnya, aku bahkan tidak memiliki kekuatan sebagai orang ketiga.”

“Aku tahu itu. Selama kita dapat mengulur waktu, maka itu sudah cukup. Sisanya akan kutangani sendiri.”

“Selanjutnya, aku tidak ingin terlibat ke dalam bahaya apa pun. Pihak lainnya adalah Instruktur Pedang Negara. Jika terjadi sesuatu, aku takkan bisa menghadapinya.”

“Bla, bla, bla, berisik sekali kamu ini.”

Sambil bilang begitu, Alexia mengambil koin emas dari saku dadanya dan menghamburnya ke lantai.

“Pungut itu.”

Koin emas 100.000 Zeny. Dan setidaknya ada 10 keping di sana.

“Heeh~, apa aku terlihat seperti pria yang akan mengibaskan ekornya demi uang?”

Kataku sambil merangkak di lantai dan dengan hati-hati mengambil koin emas itu satu persatu.

“Ya, benar.”

“Kau punya mata yang bagus.”

11 keping, 12 keping,13 keping… ah, ada satu lagi!

Tepat ketika aku mau meraih koin emas terakhir, Alexia menginjak koin emas itu.

Aku melihat Alexia. Mata merah Alexia menatapku. Aku bisa melihat bagian dalam rok lipitnya.

“Kamu akan melakukan persis seperti yang aku katakan, kan?”

Alexia memastikan dengan senyuman mengungkapkan setiap kepribadiannya yang mengerikan.

“Tentu saja, tentu saja.”

Jawabku dengan senyum lebar.

“Bagus, Pochi.”

Alexia menepuk-nepuk kepalaku seperti anjing atau anak kecil, lalu pergi dengan lambaian rok pendeknya.

Aku dengan hati-hati membersihkan koin emas yang telah diinjak tadi sebelum mengantonginya.

Bahkan setelah aku memasuki akademi, aku terus mengurangi jam tidurku untuk melanjutkan latihanku sendiri. Tapi sekarang dengan seluruh cinta palsu dengan Alexia, waktuku semakin sedikit.

“Ikuti aku.”

Dengan hanya satu ucapan itu, aku dipaksa untuk datang ke ruang kelas Group 1 Royal Capital Bushin style sangat pagi.

Sinar matahari pagi mengalir masuk, menerangi ruangan yang tenang dan luas yang hanya ditempati oleh kami berdua.

Latihan pagi hari.

Alexia hanya berfokus untuk mengayunkan pedangnya.

Aku, juga, mengayunkan pedangku di sampingnya.

Alexia sangat bersungguh-sungguh terhadap gaya berpedangnya.

Hal itu setidaknya adalah sesuatu yang sangat kuhargai.

Kami tidak berbicara. Kami hanya terus mengayun tanpa berkata apa-apa. Bagiku, ini bukanlah waktu yang tidak menyenangkan.

“Benar-benar misterius, gaya berpedangmu.”

Alexia yang pertama kali memecahkan kesunyian.

“Kamu memiliki dasar-dasarnya. Dan itu cuma satu-satunya hal yang kamu lakukan. Tapi tetap saja…”

Tentu saja, aku menekan kekuatanku, kecepatanku, sihirku, keahlianku, dan semua hal lainnya sambil mengayunkan pedangku di depannya.

Jadi tentu saja, satu-satunya yang tersisa adalah dasar-dasarnya.

“Untuk beberapa alasan, aku merasa sulit untuk mengalihkan pandanganku.”

“Terima kasih?”

Seekor burung berkicau di luar kelas. Suara indah itu sebenarnya bukanlah nyanyian, tetapi teriakan untuk memperebutkan wilayah. Aku bisa mendengar bunyi pertarungannya juga.

“Tapi ya…. aku benar-benar benci gaya berpedangmu.”

Setelah mengatakan itu, percakapan kami terputus, kemudian kami melanjutkan mengayunkan pedang kami dalam keheningan.


 

 

Halo semuanya, OTAKU-AKUT di sini! Saya harap semua orang baik-baik saja dan menikmati novelnya. Di sini, di OTAKU-AKUT, satu hal yang sudah kami perjelas sejak hari pertama adalah: Bahwa kami tidak akan pernah memaksa orang membayar untuk membaca terjemahan kami. Penerjemahan itu menyenangkan, kami menikmatinya, dan kami menyukai novel yang sedang kami kerjakan. Namun, itu juga memakan waktu dan usaha. Antara manajemen situs, pemeliharaan dan hosting di satu sisi, dan tingkat CMP rendah dan pemblokir iklan di sisi lain, pendapatan iklan kami tidak signifikan. Jika Anda memiliki pemikiran, silakan komentar di bawah ini; dan ingat: Tidak peduli bagaimana Anda memutuskan untuk mendukung kami, kami sangat berterima kasih. Terima kasih banyak!

 

Please wait...

Subscribe to our newsletter

Want to be notified when our article is published? Enter your email address and name below to be the first to know.
×
error: jangan copas donk!!
Copied!